bacadonggg.com - Nuansa politik sangat terasa di kampus setiap akhir tahun datang. Hal ini terlihat dari banyaknya baliho yang terpampang bebas di setiap sudut ruang kampus....
Pemilu Raya (Pemira) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) telah dilaksanakan pada 29 Desember 2011. Calon-calon pemimpin kita yang baru pun telah terpilih...
bacadonggg.com - Akhir pekan di bulan Desember 2011, Untirta kembali menggelar acara tahunannya, yakni Untirta Expo. Walaupun di tahun 2010 lalu Untirta Expo sempat vaccum, tapi panitia...
bacadonggg.com - Bicara soal makanan khas, gado-gado tentu tidak lepas dari daftar menu makanan khas Indonesia. Makanan khas Betawi yang terbuat dari...
bacadonggg.com - Libur semester ganjil sudah di depan mata, tidak sedikit mahasiswa yang jenuh dengan rutinitas kuliah merencanakan liburan untuk mengisi waktu kosong...
Bisnis mahasiswa saat ini seakan menjadi trend. Bermodalkan uang Rp 200.000 dan dengan bekal keberanian, Richard Albert (21), mahasiswa angkatan 2009 jurusan Manajemen Untirta mencoba dunia bisnis berjualan baju jersey sepak bola. Menurutnya, ia memilih bisnis tersebut dikarenakan belum adanya persaingan yang begitu ketat atau bahkan bisa dibilang belum ada saingan.
Pemuda asal Pekanbaru ini mengawali dunia bisnis ini dari pertengahan bulan September 2011. “Saya mencoba mengaplikasikan teori yang saya dapat dari perkuliahan ke dunia nyata. Tak dapat dipungkiri bahwa teori yang didapatkan dibangku perkuliahan berbeda dengan apa yang ada di lapangan,” ujar Richard.
Beberapa bulan berjualan, lelaki kelahiran 1990 ini mengaku langsung mendapatkan keuntungan kurang lebih sekitar Rp 300.000. Namun tetap saja dalam bisnis selalu ada kendala. Kendala yang dihadapi oleh Richard adalah pelanggan yang membeli barangnya secara kredit. Selain itu, mereka juga sangat sulit untuk membayar hutang-hutangnya. ”Jadi karena faktor teman, jadi mereka bayarnya nanti-nanti aja,” ujar Richard sambil tertawa.
Teknik penjualan yang ia lakukan untuk memasarkan barang dagangannya hanya melalui mulut ke mulut (melalui teman dekat). Menurutnya, pemasaran yang melalui jejaring sosial akan dilakukan jika permintaan baju jersey meningkat tajam. Ia berharap ke depannya, ia bisa meningkatkan kualitas barang dagangannya.
Promosi merupakan satu upaya penting untuk memperkenalkan suatu hal. Termasuk memperkenalkan tempat. Baru-baru ini, Isti Nurani (20) dan kawan-kawan sibuk mempromosikan Banten, lewat fashion.
Salah satu stand yang menjual aksesoris, tas, dan baju dalam acara PKIM Fakultas Hukum Untirta Senin (12/12) adalah kegiatan pertama Banten In Fashion dalam rangka mempromosikan Banten. Banten In Fashion adalah nama yang dipilih Isti dan kawan-kawan sebagai nama usaha dagangnya. Nama tersebut, menurutnya berbeda dengan yang lain. Ia mencoba memperkenalkan Banten dari segi fashion.
Isti dan kawan-kawan mencoba memperkenalkan Banten melalui kaos dengan desain yang menggambarkan kearifan lokal Banten, seperti Badak dan menara masjid Banten lama. Dengan cara itu, menurut mahasiswa semester lima Fakultas Hukum Untirta ini Banten dapat diperkenalkan ke dunia luar.
Usaha ini adalah salah satu hasil dari program kewirausahaan Untirta tahun 2011 ini. Isti dan kawan-kawan mengikuti serangkaian kegiatan kewirausahaan ini dari awal, mulai dari merancang proposal hingga pelatihan. Melalui kegiatan itu, Isti mendapatkan dana sebesar Rp 16 juta dari Rp 21 juta yang ia ajukan dalam proposal. “Dari dana yang diberikan tersebut baru 70 persen yang dicairkan, sisanya menunggu perkembangan,” tambah Isti.
Kendala
Di awal bisnisnya, Isti dan kawan-kawan mendapatkan cukup banyak kendala. Menuurt Isti kendala terbesarnya adalah mencari tempat sablon yang murah dan biaya transportasi yang mahal. Karena Isti mendatangkan langsung barang-barang dagangan dari luar daerah seperti Yogyakarta. “Kita mesti bolak-balik mencari barang. Kita mau kualitas yang bagus tapi untuk harga yang terjangkau mahasiswa.
Motivasi Isti dan kawan-kawan mengikuti program kewirausahaan ini adalah karena ingin belajar hidup mandiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Menurutnya Gelar Sarjana Hukum yang didapat ketika lulus kuliah tidak menjamin dirinya bisa menjadi seorang pengacara.
“Sekarang belajar berusaha, berwirausaha, makanya entar kalau lulus kita dapat pengalaman dan tahu apa yg harus dijalani dan apa yg enggak,” tambah Isti.
Untuk kedepan, harapan Isti dangat sederhana, ia berharap agar usahanya bisa sukses dan lancar, serta dapat mengembalikan modal ke universitas. Dalam program kewirausahaan ini universitas hanya meminjamkan modal sehingga setiap peserta wajib mengembalikan modal.
Bagaimana jika modal tak dapat dikembalikan?
“Kalau kita enggak mengembalikan modal, ijazah kita akan ditahan. Setahu saya ini dana hibah, kenapa harus dikembalikan lagi modalnya?,” kata Isti lirih.
“Saya dapat untung Rp 300 ribu perbulan!,” ujar Coni sambil senyum sumringah ketika ditanya berapa keuntungan yang diraih dari bisnis pulsanya, disela-sela kesibukannya di Untirta tv, Rabu (7/12).
Saat ini pulsa telah menjadi kebutuhan konsumtif setiap orang. Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh Coni Satya (20) salah satu mahasiswa ilmu komunikasi yang sedang duduk di bangku semester lima. Dengan modal awal lima ratus ribu Coni memulai bisnis pulsanya.
Cony merupakan satu dari sekian banyak penjual pulsa di kampus Untirta. Namun, keuntungan luar biasa yang diperolehnya patut jadi perhatian. Para pelangganya tidak lain merupakan teman-teman kampus. Sistem penjualan pulsanya rata-rata meminta diisikan pulsa lewat pesan singkat. Setiap harinya Coni dapat melakukan transaksi penjualan pulsa lebih dari 8 kali transaksi.
Jika dilihat dari untung setiap transaksi, Cony mendapatkan untung mulai dari Rp 500 sampai Rp 1000. Dari semua keuntungan yang didapatkan, Cony selalu mengumpulkannya hingga satu bulan, dari situlah keuntungan baru dapat terlihat. Keuntungan yang ia dapatkan, digunakannya untuk menambah uang saku.
Di akhir perbincangan ia mengungkapkan harapannya ke depan. Ia berharap keuntungan dari penjualan pulsa dapat ia jadikan sebagai modal tambahan untuk membuka bisnis yang lain.
“Kalau modalnya sudah banyak mungkin saya akan menambah bisnis lagi, jualan baju atau akseesoris gitu,” terang Cony. (Susilawati)
Dalam sejarah hidup Susilawati, mahasiswa semester lima jurusan ilmu komunikasi, berbisnis keripik pedas adalah sebuah kelanjutan dari hobi-hobinya berbisnis di masa-masa sebelumnya. Perempuan asli Cimahi ini sebelumnya pernah menjalankan beberapa bisnis kecil-kecilan seperti berjualan pulsa dan agen cutting sticker.
Meskipun awal terkesan tidak sengaja, tapi bisnis ini cukup menjanjikan bagi Susi. Bisnis ini berawal dari kebiasaan teman-teman sekelas Susi yang meminta dibawakan oleh-oleh dari Bandung saat Susi pulang ke Bandung. Brownies dan beberapa kue lainnya sudah menjadi hal biasa dari Bandung. Akhirnya, Susi membawakan keripik pedas untuk teman-temannya, dan ternyata mereka ketagihan.
“Tiap saya pulang ke Bandung pasti mereka titip tolong dibeliin dan itu enggak sedikit. Mulai dari situ saya berpikiran kenapa enggak dijadikan usaha aja ya. Enggak lama saya lihat di tv ada kripik dari Bandung yang jadi heboh banget, dengan itu saya jadi semakin termotivasi,” terang Susi.
Susi menceritakan, saking seringnya Susi membeli keripik dalam jumlah besar, produsen pembuat keripik tersebut menjadi penasaran dan meminta untuk berbincang serius dengan Susi. Dari situlah terjadi kesepakatan untuk sama-sama mengembangan bisnis keripik pedas ini.
Susi mendatangkan langsung kripik pedas ini dari Bandung dengan menggunakan jasa bus Arimbi untuk pengiriman. Setiap kripik pesanan dikirimkan produsen melalui bus Arimbi jurusan Bandung-Merak. Setibanya di Serang Susi berhubungan langsung dengan awak bus Arimbi untuk mengambil kripik tersebut. Menurut Susi cara ini terbukti efektif dan jauh lebih murah ketimbang menggunakan jasa paket yang lain.
Satanas
Label “Satanas” yang melekat erat pada keripik pedas Susi merupakan buah pemikirannya sendiri. Nama tersebut dipilih Susi setelah ia mencarinya di situs google.com. Satanas dalam bahasa Spanyol berarti Setan. Kata setan sendiri, menurut Susi merupakan istilah yang akrab bagi keripik pedas.
Untuk mempromosikan bisnis kripik pedas tersebut, Susi memilih menggunakan twitter. “Saya buat twitter @keripiksatanas dan mem-follow anak-anak kampus. saya mulai promosi dan banyak yang penasaran,” jelas Susi. Dari situlah ia mendapatkan banyak pelanggan di kampus. Selain karena rasanya yang gurih, keripik pedas tersebut juga dijual lebih murah dari harga pasar, yaitu Rp 11.500.
Bagi Susi bisnis ini bukanlah prioritas. Ia menjalaninya karena hobi. Meskipun agak sulit mengatur waktu, Susi cukup senang menjalaninya. “Saya senang bisa punya uang jajan tambahan dari apa yang saya lakukan dan merasa bangga kalau bisa jajan atau beli sesuatu dari uang sendiri,” ungkap Susi.
Di akhir perbincangan, dengan penuh keyakinan ia menyatakan bahwa produknya mampu berkembang dan bersaing dengan merk lain. “Dari rasa aja sudah jelas beda, kualitas singkong juga enggak keras kayak kripik lainnya, dan yang terakhir soal harga bener-bener terjangkau,” tutup Susi dengan bersemangat.
bacadonggg.com - Program kewirausahaan yang dilaksanakan Untirta pada tahun 2009 lalu membawa Vicky Ahmad dan kawan-kawan ke dunia bisnis di bidang jasa.
Bisnis ini berawal dari minat Vicky Ahmad, mahasiswa komunikasi Untirtta angkatan 2005 terhadap fotografi. Ia berniat membuat suatu komunitas para pengguna kamera DSLR (kamera profesional) di Untirta. Namun dosen fotografi Fisip Untirta, Burhanudin, menyarankan untuk membuka usaha di bidang fotografi agar dapat menghasilkan uang dan bukan hanya sekadar komunitas saja. Saat itu, Burhan juga menyarankan agar Vicky mengikuti program kewirausahaan untuk memperoleh modal.
Vicky yang pada saat itu sedang duduk di semester delapan kemudian mengajak Ega, Ian dan Uce yang sedang menempuh semeter enam untuk bekerja sama dalam mengajukan program kewirausahaan. Proposal yang mereka ajukan lolos sehingga mereka mendapat pelatihan dan kesempatan untuk magang di Sayuti Foto Wedding.
Berbekal uang yang diperoleh dari progam kewirausahaan mereka memulai dengan membeli alat-alat fotografi dan memilih nama Nexgen Photography (Nexgen) sebagai lebel dari jasa fotografi yang mereka tawarkan. Sampai saat ini Nexgen belum memilki sistem target dan masih bekerja jika ada job yang masuk karena masih terbentur dengan kesibukan kuliah.
Nexgen tidak hanya mengerjakan foto pernikahan tetapi juga foto wisuda saat Untirta menggelar wisuda. Sejak tahun 2009, hampir di setiap wisuda Nexgen selalu eksis dengan membuka stand foto wisuda. Usaha yang mereka jalankan ini telah mendapat dukungan dan respon yang positif di masyarakat, serta dapat memberikan mereka pemasukan untuk uang jajan.
Vicky selaku pendiri Nexgen mengaku senang menjalani bisnis ini karena ini merupakan hobinya. “Karena bisnis yang kita kerjakan ini merupakan hobi, jadi ngerjainnya juga enak dan enggak merasa terbebani,” terang Vicky. Vicky juga menambahkan, “Ada kepuasaan batin tersendiri, apalagi pada saat foto pengantin, seneng aja foto mereka karena hari itu adalah hari spesial buat mereka,” ujar Vicky.
Vicky berharap untuk kedepannya ia dan kawan-kawan dapat mengembangkan Nexgen menjadi lebih maju, bahkan memiliki cabang di setiap kota. Pria yang juga sangat senang mendengarkan musik ini berharap Nexgen dapat membuka lapangan pekerjaan dan terus berkembang. (Susilawati)